Mahasiswa Perlu Persiapkan Sertifikasi Profesi

April 13, 2017 oleh : superadmin-ppb

Setiap mahasiswa yang telah lulus dari sarjana akan mendapatkan ijazah dan gelar sarjana pada masing-masing program. Di beberapa bidang studi seperti Fakultas Teknik, sertifikasi profesi diperlukan untuk menentukan pekerjaan yang layak di masa depan. Oleh karenanya, mahasiswa perlu mempersiapkannya sejak dini dalam mengasah keahlian masing-masing.

Wakil Rektor bidang Akademik Universitas Muhammadiya Yogyakarta, Dr. Ir. Sukamta, MT, IPM menyebutkan bahwa kompetensi yang dimiliki oleh setiap individu dapat dilihat dari sertifikat yang dimilikinya. Hal tersebut beliau sampaikan dalam Seminar Sertifikasi Keahlian untuk Meningkatkan Keterserapan Lulusan dan Profesi Insinyur, di depan mahasiswa Universitas Langlangbua (UNLA) Bandung, yang berkunjung ke UMY pada Jum’at (07/04). Dalam kunjungan ini juga dilakukan penandatanganan MoU antara Fakultas Teknik UMY dengan UNLA Bandung.

“Jika kita ingin menunjukkan kemampuan kepada orang lain, maka harus dibuktikan dengan sertifikat. Bila kita hanya berbicara tanpa ada sertifikat, maka orang lain tidak akan percaya pada kita. Selain itu, sudah menjadi tuntutan globalisasi terhadap penerapan standar tersebut. Jika dikategorikan, ada 4 penerapan standar. Pertama standar profesional seperti akuntan, guru, dosen, dan dokter. Kedua standar produk, ketiga standar sistem, dan keempat standar kinerja,”jelas Sukamta.

Kebutuhan seseorang memiliki standar profesi juga disebutkan dosen Teknik Mesin tersebut akan berpengaruh pada jabatan dan juga gaji kerja. Sehingga standar profesi berupa sertifikasi akan bisa didapatkan oleh seseorang yang memiliki kompeten. “Kompeten sendiri merupakan hasil dari pengetahuan ditambah keahlian dan juga sikap kerja. Seseorang yang hanya memiliki pengetahuan tanpa ada keahlian dan pengalaman maka ia belum kompeten. Ketiga unsur tersebut harus ada untuk menjadi kompeten,” tutur Sukamta.

Pentingnya sertifikasi juga disebut Sukamta guna memenuhi tuntutan Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) yang sudah diberlakukan sejak akhir tahun 2015. “Para lulusan harus dapat memiliki sertifikasi karena tantangannya banyak terutama dengan adanya MEA. Di Jakarta saja saat ini sudah banyak pekerja asing yang masuk seperti dari China dan negara lainnya. Lulusan Fakultas Teknik-pun diharapkan setelah memiliki gelar ST (Sarjana Teknik), dapat melanjutkan studi ke jenjang profesi sehingga akan memiliki gelar insinyur (Ir). Karena mulai tahun 2015, tidak ada lagi insinyur-insinyur Indonesia yang bersaing di perusahaan di dalam negeri, karena adanya insinyur dari negara-negara ASEAN yang juga meramaikan sengitnya persaingan mendapatkan pekerjaan di Indonesia,” tegas Sukamta. (deansa)